BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pertumbuhan dan perkembangan emosi,
seperti juga pada tingkahlaku lainnya,
ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang
baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia hampir mencapai tingkat kematangan
tertentu sebelum ia dapat tertawa. Kalau anak itu sudah lebih besar, maka
ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk
maksud-maksud tertentu pada situasi-situasi tertentu. Pada bayi yang baru
lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang nampak sebagai
ketidaksenangan dalam baru menangis dan meronta. Pada umumnya perbuatan
kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan
senang atau perasaan tidak senang.
Suatu perbuatan dimulai dengan adanya suatu ketidakseimbangan
dalam diri individu, misalnya lapar atau takut. Keadaan tidak seimbang ini
tidak menyenangkan bagi individu yang bersangkutan, sehingga timbul
kebutuhan untuk meniadakan ketidakseimbangan ini, misalnya mencari makanan
atau mencari perlindungan. Kebutuhan inilah yang akan menimbulkan doronganatau
motif untuk berbuat sesuatu.Setelah perbuatan itu dilakukan maka tercapailah keadaan seimbang dalam
diri individu, dan timbul perasaan puas, gembira, aman dan
sebagainya. Kecenderungan untuk mengusahakan keseimbangan dari ketidak
seimbangan terdapat dalam diri tiap organisme danmanusia, dan ini disebut
prinsip homeostasis. Pada manusia, lingkaran motivasi
bersifat dinamis,ini disebabkan karena keseimbangan pada manusia
seringkali merangsang ketidak seimbangan lain yang lebih tinggi
tingkatannya.Hal ini tidak terdapat pada hewan, misalnya, karena pada hewan
ketidakseimbangan-ketidakseimbangan yang timbul selalu sama dan waktu ke waktu
sampai hewan ini mati.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan emosi dan motif?
2.
Sebutkan teori-teori tentang emosi?
3.
Sebutkan jenis-jenis emosi dan motif?
C.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Untuk mengetahui pengertian emosi dan motif?
2.
Untuk mengetahui teori-teori tentang emosi ?
3.
Untuk mengetahui jenis-jenis emosi dan motif ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
1) Emosi
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan
yang mewarnai tingkah laku. Emosi juga diartikan sebagai suatu reaksi
psikologis dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut,
marah, muak, haru, cinta, dan sejenisnya. Biasanya emosi muncul dalam bentuk
luapan perasaan dan surut dalam waktu yang singkat. Hathersall (1985)
merumuskan pengertian emosi sebagai suatu psikologis yang merupakan pengalaman
subyektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Misalnya seorang
remaja yang sedang marah memperlihatkan muka merah, wajah seram, dan postur
tubuh menegang, bertingkah laku menendang atau menyerang, serta jantung
berdenyut cepat.
Selanjutnya Keleinginna and Keleinginan (1981) berpendapat bahwa emosi
seringkali berhubungan dengan tujuan tingkah laku. Emosi sering didefinisikan
dalam istilah perasaan (feeling), misalnya pengalaman-pengalaman afektif,
kenikmatan atau ketidaknikmatan, marah, takut bahagia, sedih dan jijik.
English and English (Syamsu Yusuf, 2003) menyebut emosi ini sebagai “A
complex feeling state accompanied by characteristic motor and grandular
activities”. Sedangkan menurut William James (dalam DR. Nyayu Khodijah)
mendefinisikan emosi sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan dirinya
dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh.
Dari berbagai pengertian emosi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa emosi
merupakan reaksi psikologi seseorang dalam bertindak atau melakukan suatu
tindakan, misalnya menangis, marah, benci, takut, sedih, haru, cinta, muak,
bahagia dan lain-lain.
2) Motif
Motif,atau
dalam bahasa Inggris-nya'"motive",berasal dari kata ''motion",
yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Jadi istilah motif, pun erat
hubungannya dengan "gerak", yaitu dalam hal ini gerakan yang
dilakukan oleh manusia atau disebut juga per-buatan atau tingkah laku. Motif
dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi
terjadinya suatu tingkahlaku. Di samping istilah "motif", dikenal
pula dalam psikologi istilah motivasi. Motivasi merupakan istilah yang lebih
umum, yang menunjuk kepada seluruhproses gerakan itu, termasuk situasi yang
mendorong, dorongan yang timbuldalam diri individu, tingkah laku yang
ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir daripada gerakan atau
perbuatan.Ada beberapa pendapat mengenai apa sebenarnya motif itu.
Seringkali
diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau
tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat.
Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia
untuk bertingkah-laku, dan di dalam perbuatannya itu mempunyai tujuan tertentu.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi
(niat).
Dalam motif,
pada umumnya terdapat dua unsur pokok, yaitu kebutuhan dan tujuan. Proses
interaksi timbal balik antara kadua unsur ini terjadi dalam tubuh manusia,
walaupun dapat dipengaruhi oleh hal-hal dari luar diri manusia. Karena itu,
bisa saja terjadi perubahan motivasi dalam waktu singkat.Sedangkan menurut
Dister, setiap tingkah laku manusia adalah hasil dari hubungan timbal balik
antara tiga faktor, yaitu:
a.
Dorongan spontan manusia, yaitu dorongan yang tidak ditimbulkan dengan
sengaja. Seperti dorongan seksual, nafsu makan dan kebutuhan akan tidur.
b.
Ke-aku-an manusia, dimana manusia menyetujui dorongan spontan tadi untuk
menjadi miliknya, sehingga kemudian menjadi sebuah “kejadian”. Misalnya dengan
menunda makan, walaupun ia merasa lapar.
c.
Lingkungan hidup manusia.
Ada beberapa kriteria motif, berikut ini adalah
motif-motif yang timbul pada diri manusia ketika berkomunikasi:
a. Motif informatif, yaitu segala sesuatu yang
berhubungan dengan hasrat untuk memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan.
d. Motif hiburan, yaitu hal-hal yang berkenaan untuk
mendapatkan rasa senang.
e. Motif integrasi personal, merupakan motif-motif yang
timbul akibat keinginan untuk memperteguh status, kredibilitas, rasa percaya
diri, dll
f. Motif integratif sosial, dimaksudkan untuk memperteguh
kontak sosial dengan cara berinteraksi dengan keluarga, teman, orang lain.
g. Motif pelarian, merupakan motif pelepasan diri dari
rutinitas, rasa bosan, atau ketika sedang sendiri.
B.
TEORI-TEORI
1)
Emosi
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi. Pendapat yang Nativistik mengatakan bahwa emosi-emosi itu pada
dasarnya merupakanbawaan sejak lahir, sedangkan pendapat yang Empiristik mengatakan bahwaemosi dibentuk oleh
pengalaman dan proses belajar.
Salah satu penganut paham Nativistik adalah:
“Rene Descartes(1596-1650). la mengatakan
bahwa manusia sejak lahirnya telah mempunyai enamemosi dasar yaitu: Cinta,
Kegembiraan, Keinginan, Benci, Sedih dan Kagum”.
Di pihak
kaum empiristik dapat kita catat nama-nama:
a. WilliamJames (1842-1910,Amerika
Serikat) danCarl Lange (Denmark) Kedua orang ini menyusun suatu teori tentang emosi
yang dinamakan teori James Lange. Menurut teori ini, emosi adalah hasil
persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap rangsangan
yang datang dari luar. Jadi, kalau seorang misalnya melihat seekor harimau,
maka reaksinya adalah darah makin cepat beredar karena denyut jantung
makin cepat, paru-paru pun lebih cepat memompa udara dan sebagainya.
Respons-respons tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa takut.
Jadi, orang itu bukan berdebar-debar karena takut setelah melihat harimau
melainkan karena ia berdebar-debar maka timbul rasa takut. Mengapa rasa takut
yang timbul, ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar. Orang
yang bersangkutan dari pengalamannya telah mengetahui bahwa harimau adalah
makhluk yang berbahaya karena itu debaran jantung dipersepsikan sebagai takut. Teori
ini sering juga disebut teori perifer. Dalam teori ini disebutkan bahwa emosi
timbul setelah terjadinya reaksi psikologik. Emosi merupakan hasil persepsi
seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam tubuh sebagai respon
terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar.Selain itu, gejala
kejasmanian bukanlah akibat emosi yang dialami oleh individu, melainkan emosi
merupakan akibat dari gejala kejasmanian.Seseorang tidak menangis karena susah,
tetapi sebaliknya, orang tersebutsusah karena menangis (Sunaryo, 2004).
Kira-kira
seabad yang lalu, yang dikenal dengan Teori James Lange, mengemukakan
proses-proses terjadinya emosi di hubungkan dengan faktorfisik dengan
urutan sebagai berikut:
1.
Mempersepsikan
situasi di lingkungan yang mungkin menimbulkan emosi.
2.
Memberikan reaksi terhadap
situasi dengan pola-pola khusus melalui aktivitas fisik.
3. Mempersepsikan pola aktivitas
fisik yang mengakibatkan munculnya emosi secara khusus. Uraian ini
disingkat menjadi: Lingkungan -Otak -Perubahan
Pada Tubuh + Emosi. Perubahan emosi karena perasaan yang menekan,
mempengaruhi fungsi pencernaan. Sebagaimana diketahui, pencernaan dilakukan di
dalam lambung melalui asam lambung, biasanya lambung
menghasilkan asam lambung dalam jumlah sesuai dengan yang dibutuhkan dan
berhenti kalau tugas mencerna13 makanan selesai. Pengeluaran asam lambung
ini diatur oleh susunan saraf para simpatis sebagai bagian
dari susunan saraf otonom. Dalam keadaan stres, asam lambung
dihasilkan secara berlebihan dan kalau ini terjadi tanpa dipergunakan
untuk mencerna makanan, menyebabkan peradangan pada permukaan lambung
dan dapat menimbulkan luka.
b. WilhelmWundt (1832
-1920). Tetapi berbeda dari W. James yang menyelidiki mengapa timbul
emosi, WilhelmWundt menguraikan jenis-jenis emosi. Menurut Wundt ada tiga
pasang kutub emosi, yaitu :
1.
Senang -tak senang
2.
Tegang -tak tegang
3.
Semangat-tenang
Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi emosi terutama pada emosi
yang kuat, seringkali terjadi juga Perubahan-perubahan pada tubuh kita antara
lain:
a. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
b. Peredaran darah: bertambah cepat bila marah.
c. Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut.
d. Pernafasan: bernafas panjang kalau kecewa.
e. Pupil mata: membesar bila sakit atau marah.
f. Liur: mengering kalau takut atau tegang.
g. Bulu roma: berdiri kalau takut.
h. Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang.
i.
Otot:Ketegangandan ketakutanmenyebabkanotot
menegang atau bergetar (tremor).
j.
Komposisi darah: Komposisi darah akan ikut berubah
dalam keadaan emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif
2) Motif
Seperti
telihat dalam siklus, motif atau driving state dapat timbul karena stimulus
internal, stimulus eksternal, ataupun interaksi antara keduanya. Mengenai motif
ini ada beberapa teori yang diajukan yang memberi gambaran tentang seberapa
jauh peranan dari stimulus internal dan eksternal. Teori – teori tersebut adalah:
1.
Teori insting ( instinct theory)
Alasan
mengapa seseorang berperilaku adalah karena adanya insting (predisposisi yang
alami).Perilaku dan pikiran manusia adalah hasil dari insting yang bersifat
bawaan (Mc Dougall).Teori ini kurang berkembang
2.
Teori dorongan ( drive theory )
Alasan mengapa seseorang berperilaku adalah untuk mengurangi tegangan yang
tidak menyenangkan.Perilaku manusia didorong oleh sexual drive dan aggressive
drive (Freud).Kebutuhan yang sangat kuat akan sesuatu akan menimbulkan keadaan tegang/
bergejolak dan membutuhkan penurunan tegangan (drive reduction)
3.
Teori insentif ( insentive theory )
Alasan mengapa seseorang
berperilaku adalah untuk mendekati insentif yang positif (reward) dan menjauhi
insentif yang negatif (punishment). Dipelopori aliran behavioristik, disebut juga external motivation.
C. JENIS-JENIS
1)
Emosi
a.
Takut
Takut
adalah perasaan yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatudan sedapat
mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ekstrim daritakut adalah
takut yang pathologis yang disebut phobia. Phobia adalah perasaan takut
terhadap hal-hal tertentu yang demikian kuatnya, meskipun tidak ada alasan yang
nyata, misalnya takut terhadap tempat yang sempit dan tertutup (claustrophobia),
takut terhadap ketinggian atau takut berada di tempat –tempatyang tinggi
(acrophobia), takut terhadap kerumunan orang, takut tempat-tempat ramai
(ochlophobia).
Rasa
takut lain yang merupakan kelainan kejiwaan adalah kecemasan (anxiety) yaitu
rasa takut yang tak jelas sasarannya dan juga tidak jelas alasannya. Kecemasan
yang terus menerus biasanya terdapat pada penderita-penderita Psikoneurosis.
b.
Khawatir
Khawatir
atau was-was adalah rasa takut yang tidak mempunyai obyek yang jelas atau
tidak ada obyeknya sama sekali. Kekhawatiran menyebabkan rasa
tidak senang, gelisah, tegang, tidak tenang, tidak aman. Kekhawatiran
seseorang untuk melanggar norma masyarakat adalah salah satu bentuk
kekhawatiran yang umum terdapat pada tiap-tiap orang dan kekhawatiran ini
justru positif karena dengan demikian orang selalu bersikap hati-hati dan
berusaha menyesuaikan diri dengan norma masyarakat.
c.
Cemburu
Kecemburuan
adalah bentuk khusus dan kekhawatiran yang didasari oleh kurang adanya
keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari
seseorang. Seorang yang cemburu selalu mempunyai sikap benci terhadap
saingannya.
d. Gembira
Gembira
adalah ekspresi dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan.
Biasanya kegembiraan disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba (surprise)
dan kegembiraan biasanya bersifat spesial, yaitu melibatkan orang-orang lain di
sekitar orang yang sedang gembira tersebut.
e. Marah
Dalam emosi ini
mengekspresikan ketidaksukaan dan menolak terhadap suatu peristiwa. Dalam
aktivitasnya tentu seseorang akan berarak menentangnya secara aktif.
Kemarahan selalu terlihat berhubungan dengan keadaan tertentu. Kemarahan bisa
pula timbul sehubungan dengan keadaan yang sebetulnya tidak lazim menimbulkan
kemarahan. Itu tergantung dari factor belajar dan pendewasaan.
2)
Motif
a.
Motif Fisiologis
Dorongan
atau motif fisiologis pada umumnya berakar pada keadaan jasmani, misal dorongan
untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk mendapatkan
udara segar. Dorongan-dorongan tersebut adalah berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan untuk melangsungkan eksistensinya sebagai makhluk hidup.
Karena itu motif ini juga sering disebut sebagai motif dasar ( basic motives )
atau motif primer ( primary motives ) karena motif atau dorongan ini berkaitan
erat dengan pertahanan eksistensi kehidupan. Dorongan ( drive ) ini merupakan
dorongan atau motif alami, merupakan motif yang dibawa. Disamping adanya motif
yang alami, juga ada motif yang dipelajari.
1.
Tujuan yang dipelajari
Hewan dan manusia kadang-kadang belajar mencapai tujuan yang tidak langsung berkaitan dengan pemuasan kebutuhan biologis. Tujuan semacam ini yang sering disebut sebagai tujuan yang dipelajari ( learned goal )atau tujuan sekunder.
Hewan dan manusia kadang-kadang belajar mencapai tujuan yang tidak langsung berkaitan dengan pemuasan kebutuhan biologis. Tujuan semacam ini yang sering disebut sebagai tujuan yang dipelajari ( learned goal )atau tujuan sekunder.
2.
Motif dan kebutuhan yang dipelajari
Pengertian kebutuhan yang dipelajari sering digunakan apabila motif itu timbul karena proses belajar. Berkaitan dengan ini misalnya kebutuhan sosial yang juga kadang-kadang disebut motif sosial. Disebut motif sosial karena motif ini dipelajari melalui interaksi sosial. Sebagai hasil proses belajar yang kompleks khususnya melalui kondisioning operand an modeling dalam keluarga anak belajar adanya kebutuhan akan prestasi.
Pengertian kebutuhan yang dipelajari sering digunakan apabila motif itu timbul karena proses belajar. Berkaitan dengan ini misalnya kebutuhan sosial yang juga kadang-kadang disebut motif sosial. Disebut motif sosial karena motif ini dipelajari melalui interaksi sosial. Sebagai hasil proses belajar yang kompleks khususnya melalui kondisioning operand an modeling dalam keluarga anak belajar adanya kebutuhan akan prestasi.
b. Motif sosial
Motif sosial merupakan motif yang kompleks, dan merupakan sumber dari
banyak perilaku atau perbuatan manusia. Dikatakan sosial karena motif ini
dipelajari dalam kelompok sosial.
McClelland
berpendapat bahwa motif sosial itu dapat dibedakan dalam:
1.
Motif berprestasi atau juga disebut( need for
achievement )
Orang yang mempunyai kebutuhan atau need ini akan meningkatkan performance, sehingga dengan demikian akan terlihat tentang kemampuan prestasinya. Untuk mengungkap kebutuhan akan prestasi ini dapat diungkap dengan teknik proyeksi.
Orang yang mempunyai kebutuhan atau need ini akan meningkatkan performance, sehingga dengan demikian akan terlihat tentang kemampuan prestasinya. Untuk mengungkap kebutuhan akan prestasi ini dapat diungkap dengan teknik proyeksi.
2.
Motif berafiliasi atau juga
disebut kebutuhan afiliasi (need for affiliation)
Afiliasi menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan berhubungan dengan orang lain.
Afiliasi menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan berhubungan dengan orang lain.
3.
Motif berkuasa atau
kebutuhan berkuasa ( need for power )
Dalam interaksi sosial orang akan mempunyai kebutuhan berkuasa ( power ). Kebutuhan akan kekuasaan ini bervariasi dalam kekuatannya dan dapat diungkapkan dengan teknik proyeksi.
Dalam interaksi sosial orang akan mempunyai kebutuhan berkuasa ( power ). Kebutuhan akan kekuasaan ini bervariasi dalam kekuatannya dan dapat diungkapkan dengan teknik proyeksi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Emosi dapat diartikan sebagi suatu
reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia,
sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta dan lain-lain. Emosi seringkali
berhubungan dengan tujuan tingkah laku.Emosi sering didefinisikan dalam istilah
perasaan (feeling), misalnya pengalaman-pengalaman afektif, kenikmatan, marah,
takut, bahagia dan lainnya.
Motif
adalah merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan,
atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.
Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif. Motif-motif manusia
dapat bekerja secara sadar, dan juga secara tidak sadar bagi diri manusia.
Untuk itu, agar dapat memahami dan mengerti tingkah laku manusia dengan lebih
sempurna maka patutlah kita memahami dan mengerti terlebih dahulu apa dan
bagaimana motif-motif dari tingkah lakunya.
DAFTAS PUSTAKA
Azhari,Psikologi
Umum & Perkembangan,Jakarta:Seri buku daras,2014
Sobur, Alex, Psikologi umum, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.
Walgito, Bimo, Psikologi Umum,Yogyakarta:Yayasan penerbitan fakultas psikologi UGM, 1983.
Sobur, Alex, Psikologi umum, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.
Walgito, Bimo, Psikologi Umum,Yogyakarta:Yayasan penerbitan fakultas psikologi UGM, 1983.
Ahmadi, Abu. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Sarwono, Sarlito. 2002.Psikologi
sosial individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar